Oleh: Wibisono
Pekan ini, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin ketemu dengan menhan AS Pete Hegseth di Washington Amerika Serikat.
Baca juga: Serangan Militer AS Terhadap Venezuela, Ubah Tatanan Geopolitik Global
Isu terkait dengan pemberian "blank cheque" ke AS untuk menggunakan wilayah udara Indonesia, adalah tidak benar.
Blanket Overflight Clearance adalah Indonesia memberikan izin terbang massal untuk semua pesawat militer AS. Artinya, pesawat AS tidak perlu mengajukan izin satu per satu setiap mau melintas. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa izin akses lintas udara bagi pesawat Amerika Serikat tidak termasuk dalam kerja sama pertahanan Indonesia-AS.
Kementerian Pertahanan melalui juru bicara Rico Ricardo Sirait menyatakan bahwa rencana Letter of Intent (LOI) terkait overflight clearance tidak menjadi bagian dari Indonesia–US Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Seperti dikutip Antara, kesepakatan MDCP sendiri ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Washington pada senin.
Baca juga: Pengamat: Kasus bandara Morowali bisa seret mantan presiden Jokowi ke masalah hukum
Notifikasi, Bukan Permohonan:
Sistemnya adalah "notification-based". AS cukup memberi tahu, bukan minta izin, bahwa pesawat mereka mau lewat. Begitu terus sampai ada pemberitahuan pembatalan dari AS. Ini artinya menghilangkan kendali Indonesia atas lalu lintas udara militernya sendiri.
Seandainya kesepakatan itu terjadi maka ruang lingkup Luas: Izin ini diberikan untuk "contingency operations, crisis response missions, and mutually agreed exercise-related activities." Frasa "contingency operations" dan "crisis response" ini sangat lentur dan bisa dimaknai macam-macam, termasuk operasi militer besar.
Pemerintah harus menjelaskan ke publik bahwa semua isu diatas tidak benar, karena dalam pekan ini menimbulkan perdebatan dan kehebohan para pakar dan masyarakat luas.
Baca juga: Wibisono: Saya kehilangan sosok panutan, selamat jalan pak Antasari Azhar
Karena, kita sudah lihat dampak bagaimana AS menempatkan negara-negara sekutunya di teluk berasa dalam bahaya, mereka tak diberitahu, lalu harus menerima konsekuensi tindakan AS-Israel ke Iran.
Semoga kebijakan yang diambil pemerintah tidak terburu-buru dalam menyikapi situasi perang Iran-AS/Israel ini, sehingga kondisi geopolitik tidak semakin panas dikawasan Asia-Pasifik.
Penulis: Pengamat Militer dan Pertahanan
Editor : Redaksi