Oleh: Yusuf Blegur-Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS)
Lahir dari hubungan gelap dan rahim yang menyimpan virus mematikan konstitusi dan demokrasi. Baik Prabowo dan Jokowi, dalam sinergi maupun konfrontasi, tetap sama menjadi toksik bagi kehidupan rakyat dan negara bangsa Indonesia
Baca Juga: IPPS Ungkap Dugaan Penyimpangan Dana Kompensasi TPST Banatargebang
Skandal penyadapan terhadap presiden, pejabat negara, tokoh politik, media dan LSM/ormas, yang dilakukan oleh Sigit Sulistyo Prabowo dan beberapa jenderal polisi dan disinyalir melibatkan beberapa ketua umum partai politik. Bukan saja menyita perhatian publik secara luas, lebih dari itu telah mengubur pelbagai persoalan fundamental dan substansial seperti karhutla, melambungnya harga BBM dan sembako, anjloknya rupiah dan saham, kenaikan pajak dan utang, serta beragam krisis kenegaraan lainnya yang menimbulkan penderitaan rakyat.
Kasus penyadapan tersebut memang menimbulkan banyak reaksi yang beragam dan ekstrim. Mulai dari persfektif upaya penghianatan dan makar yang menjadi irisan dari pertarungan pengaruh dan kekuasaan sosok Jokowi dan Prabowo, hingga asumsi skenario dramaturgi sedang dimainkan (pengalihan isu).
Publik dihadapkan pada pengamatan konstelasi dan konfigurasi politik yang terbelah. Satu sisi berkembang asumsi relasi politik yang langgeng dan solid antara Prabowo dan Jokowi, setidaknya sampai pilpres 2029. Sementara lainnya, meyakini adanya dinamika yang tinggi dan krusial yang mengarah pada perpecahan kongsi politik dua sosok presiden dan mantan presiden itu.
Tensi tegang mulai dari penangkapan Jampidsus Febri Diansyah yang dimotori Tim Kortas Tipikor Polri hingga pemecatan Kapolri Listyo Sigit Prabowo oleh presiden. Ditenggarai memicu terbongkarnya masalah penyadapan presiden. Analisa itu menguatkan betapa hubungan Prabowo Jokowi yang direpresentasikan dengan kehadiran putranya Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden yang menjadi kesinambungan eksistensi politik Jokowi. Dari waktu ke waktu semakin rapuh, memiliki resistensi kuat, dan berpotensi konflik di antara keduanya. Meskipun tidak menutup kemungkinan karena kontrak politik tertentu, keduanya tetap solid dan sulit dipisahkan.
Menariknya dan sekaligus miris, secara keseluruhan rakyat, bangsa, dan negara Indonesia, sejatinya tidak memiliki korelasi yang relevan dengan pasang surut hubungan baik drama maupun konflik sesungguhnya kedua orang paling berpengaruh dalam pemerintahan sejauh ini. Sinergi atau konfrontasi yang terjadi dalam balutan interaksi kedua orang sarat kontroversi dan polemik itu, sayangnya tidak berdampak signifikan terhadap tujuan kemakmuran dan keadilan rakyat serta negara kesejahteraan.
Baca Juga: Rupiah Murah, Rasuah Meriah
Dengan kata lain, apapun latar, motif, dan tendensi dari fragmentasi dan polarisasi Prabowo dan Jokowi tidak lebih dari sekadar permainan semu yang hanya ingin memuaskan syahwat politik dan kepentingan kekuasaan semata. Persoalan korupsi yang sudah pada titik nadir dan banyaknya "state organized crime" yang telanjang di republik ini, terbiasa abai dan terpinggirkan dari idealisasi proses kebangsaan dan kenegaraan yang sejati.
Prabowo dan Jokowi yang terus dirundung dosa politik dan beban sejarah yang hitam kelam. Keduanya merupakan produk dari konspirasi, manipulasi, dan distorsi dari pelaksanaan konstitusi dan demokrasi.
Dalam ranah relasi yang masih langgeng ataupun pecah kongsi. Kedua sosok tersebut tidaklah memiliki gen atau DNA pemimpin yang cerdas dan berintegritas. Sulit membayangkan rakyat, bangsa, dan negara Indonesia bisa menikmati kehidupan yang layak, bermartabat, dan manusiawi dari eksistensi, kewenangan dan otoritas mereka baik secara formal struktural maupun kultural.
Sudah waktunya, publik lebih bijak memaknai segala macam dan bentuk peristiwa, serta menarik akar sejarahnya untuk bisa menilai secara lebih obyektif, proporsional, dan berorientasi pada nilai-nilai kepemimpinan dan kebangsaan yang lebih bermakna. Baik buruknya pemimpin adalah cermin dari baik buruk rakyatnya, atau mungkin juga sebaliknya.
Baca Juga: "Warning” Buat Prabowo
Saat penguasa seiring sejalan begitu solid dan atau bahkan diselimuti konflik sesamanya sekalipun. Realitas itu, faktanya tak ada hubungannya dengan kebaikan rakyat. Justru rakyat terus menjadi permainan dan eksploitasi dari ambisi duniawi rezim itu. Solid atau konflik antara mereka tetap berujung menguntungkan penguasa. Terlebih dalam konflik, penguasa terkadang lebih sering mengorbankan rakyat, teraniaya dan kehilangan nyawa seperti menjadi konsekuensi logis dari pertarungan internal rezim.
Prabowo dan Jokowi. Tidak ada bedanya di antara keduanya. Sama-sama ambisius dan dipenuhi libido kekuasaan yang tak terkira. Rekam jejak yang dipenuhi data dan fakta di bawah langit kegelapan kebangsaan, membuat rakyat terus terpuruk dalam nista kesengsaraan. Kalaupun bukan dramaturgi dan keduanya konflik strategis. Prabowo dan Jokowi itu ibarat Dua Gajah Bertarung, derita rakyat yang mengapung.
Editor : Redaksi