Oleh : Wibisono
Isu panas seputar kerusuhan nasional dalam gelombang demo Agustus 2025 masih terus bergulir. Publik sempat ramai meyakini adanya dalang dan campur tangan asing dalam memperkeruh situasi.
Baca Juga: Evaluasi Satu tahun Pemerintahan Prabowo- Gibran
Ada beberapa pandangan berbeda, kerusuhan tersebut bukan digerakkan kekuatan dari luar negeri, melainkan ada pihak internal yang diduga menjadi dalang sebenarnya.
Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang terjadi pada awal hingga pertengahan Agustus 2025 awalnya berangkat dari tuntutan mahasiswa dan buruh terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap memberatkan.
Namun, situasi berubah drastis ketika massa mulai melakukan tindakan anarkis di beberapa kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Sejumlah fasilitas umum rusak, kendaraan terbakar, gedung DPR dan kantor polisi menjadi sasaran pelemparan bom molotov. Polisi bahkan harus menurunkan pasukan tambahan untuk mengendalikan massa yang mulai tidak terkendali.
Situasi ini menimbulkan spekulasi liar. Sebagian pihak menuding adanya intervensi asing yang sengaja memanfaatkan momentum untuk menggoyang stabilitas politik Indonesia.
Tidak semua kerusuhan itu by design, bisa terjadi begitu saja, mengalir dan peristiwanya begitu cepat. Apapun jenis kerusuhan 28 Agustus 2025 yang menewaskan Saudara kita Affan Kurniawan dan memantik kerusuhan di berbagai daerah, keduanya bisa dianalisa. Keduanya berlaku hukum kausalitas, tidak ada asap kalau tak ada api.
Jika ada akibat (kerusuhan) maka ada sebab. Sebab itu bisa dianalisa kemana-mana, termasuk dalang dan narasi yang dibangun. Bisa benar bisa juga salah bisa juga abu-abu.
Baca Juga: Projek Kereta Cepat Trial n Error, Badan Usaha Wajib Bayar Hutang
Lantas bagaimana analisanya?
Pertama, dalang dari semua ini adalah kebijakan pemerintah yang buat rakyat marah. Mulai dari kenaikan PPN 15%, Pemblokiran rekening nganggur, dilarang jual gas 3 Kg bagi pedagang kecil, PBB naik beratus kali lipat, dan yang paling klimaks adalah saat pengumuman gaji DPR RI 3 juta per hari dengan tambahan 50 juta untuk sewa pengganti rumah dinas. Setelah pidato tahunan presiden Prabowo dan rapat paripurna itu, para dewan yang terhormat berjoget joget, sehingga rakyat marah, sedangkan Investasi banyak yang kabur, Gudang Garam hampir bangkrut, Sritex sudah gulung tikar, PHK terjadi, inflasi sulit dibendung, harga kebutuhan dasar melangit, mencari uang pun sulit.
Rakyat menerima kenyataan itu, tapi narasi yang dibangun seolah pemerintah memiliki kebijakan yang pro elitis dan abai pada populis. Di situlah rakyat marah dan satu-satunya pusat kemarahan pada wakilnya di DPR. anggota DPR-nya seperti menantang. Bilang tolol-lah, bilang duit segitu diributkan, bahkan video yang muncul makian buat marah massa. Apalagi, tragedi tewasnya Affan Kurniawan yang membuat Ojol seluruh negeri terketuk solidaritasnya untuk mencari keadilan pada polisi. Sudah banyak sekali sekam kemarahan para ojol pada polisi sejak lama, di pantik dengan brutalnya melindas anggota mereka, jadilah "pertempuran" polisi-ojol yang merebak ke mana-mana. Tentu semua punya alasan, tapi bergesernya dari isu "Bubarkan DPR" ke sweeping mobil polisi dan bahkan mobil dinas dan semakin anarkis di lapangan tentu ini membahayakan. Bakar-bakaran jadi isu dan solusi emosional.
Kedua, dalangnya bisa jadi para pembesar negeri yang punya pengaruh serta konektifitas pada kekuasaan. Upaya isu Fufufafa dan pemakzulan Gibran yang belum saja sukses tentu membuat gusar mereka. Jika jalan konstitusi yang ketua DPR tak berani bahas tentang ini di Paripurna belum saja berhasil maka jalan terakhir adalah membuat kekacauan. Mereka ahli di bidang ini. Terekam banyak video bahwa para intel memprovokasi agar masa dan polisi terpancing amarahnya. Mereka baku hantam.
Terekam pula provokasi yang entah siapa yang memancing sehingga jadi anarkis. Katanya pula, ada perintah untuk menggilas ojol yang menghalangi Rantis Barracuda di suara microphone. Entah benar apa tidak, namun yang jelas puzzle itu jika disambung bisa juga memetakan keterlibatan mereka hingga ini terjadi.
Baca Juga: The Rising Star "Purbaya" Muncul Tidak Terduga di Tengah Ketidakpastian
Ketiga, dalangnya adalah kekuatan besar internasional. Ada banyak kekuatan yang tak ingin Indonesia maju. Ada Singapura yang tak mau kepentingan Malaka terganggu. Ada Israel yang kemarin merasa terkecoh saat 17 Agustus Indonesia merayakan kemenangan dengan mengirim bantuan ke Palestina melalui udara bersama Baznas. Ada AS yang tak rela Indonesia masuk BRICS. Ada Malaysia yang kemarin sempat gemetar saat lihat TNI kerahkan alat tempurnya diAmbalat. Tentu mereka tidak bisa main langsung ke gelanggang kerusuhan, tapi mereka cukup modal untuk mengacaukan Indonesia. Mereka menguasai algoritma medsos, cukup asupan tontonan bangsa ini diatur. Narasi dan keberpihakan negatif atas bangsa ini dimunculkan sehingga opini publik terbentuk.
Mungkin yang membuat adalah masyarakat kita, tapi yang mengatur apa dan bagaimana video pendek yang muncul FYP adalah mereka. Algoritma bukan lagi tentang kepentingan kebaikan massa tapi didesain untuk menciptakan yang disukai massa. Bukankah era ini "the bad news is good news"? Massa lebih senang berita buruk daripada berita baik. Nah, untuk memantik kekacauan di Indonesia itu sangat mudah. Kendalikan algoritmanya, dorong influencer untuk menarasikan kejelekan pemerintah, fyp-kan seluruh peristiwa yang memantik kemarahan rakyat dan tunggulah saat yang tepat bahwa kemarahan itu berbuah kerusuhan.
Saya menghargai presiden Prabowo yang bergerak cepat merespons keadaan yang hampir chaos sehingga dapat dikendalikan dengan cepat dan aman, sehingga stabilitas nasional segera terkendali dengan baik dan keutuhan NKRI dapat terjaga dengan baik.
Penulis: pengamat militer dan Pembina Lembaga Pengawas pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN)
Editor : Redaksi