HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawy: Rais Aam Ternyata Awam?

Reporter : Redaksi

Catatan atas Pidato Berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar pada Penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan

Oleh: HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawy (Warga NU, Kiai Kampung) 

Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Lilur Tawarkan Formula Kepemimpinan PBNU Masa Depan

Saya mengikuti pidato berbahasa Arab yang disampaikan Kiai Miftahul Akhyar pada penutupan Munas-Konbes Nahdlatul Ulama di Bangkalan melalui siaran langsung NU Online.

Sebagai alumnus MAN Program Khusus (MAN-PK) dan santri Pondok Pesantren Denanyar, saya terbiasa menyimak teks-teks Arab, baik dari sisi nahwu, sharaf, maupun balaghah. Karena itu, perhatian saya tertuju bukan hanya pada isi pidato, tetapi juga pada ketepatan pembacaan serta sumber rujukan yang digunakan.

Di tengah pidato tersebut saya mendapati adanya kutipan yang saya kenali berasal dari Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali. Sepanjang yang saya simak, saya tidak mendengar adanya penyebutan nama kitab maupun pengarangnya. Dari sudut pandang etika akademik dan tradisi keilmuan Islam yang menghargai sanad ilmu, hal ini memunculkan pertanyaan dalam benak saya: apakah sudah semestinya sebuah kutipan disampaikan tanpa menyebut sumbernya?

Bagi saya, penyebutan sumber bukan sekadar formalitas. Ia merupakan bagian dari amanah ilmiah dan penghormatan kepada para ulama yang menjadi mata rantai keilmuan.

Namun, persoalan itu bukan satu-satunya hal yang saya catat. Yang lebih mengusik perhatian saya justru sejumlah kekeliruan dalam pembacaan teks Arab yang menurut hemat saya tidak seharusnya terjadi, terlebih jika teks tersebut telah dipersiapkan sebelumnya.

Catatan pertama adalah penyebutan tahun 1448 Hijriah. Pada durasi sekitar 2:01:47, menurut pendengaran saya, penyebutan angka tersebut menjadi susunan yang secara harfiah dapat dipahami sebagai "14.048 Hijriah". Saya memandang kekeliruan ini bukan sekadar terpeleset lidah, melainkan kesalahan mendasar dalam penyebutan bilangan Arab.

Saya teringat pelajaran bab 'Adad dalam Alfiyah yang dahulu saya pelajari dari Kiai Aziz Masyhuri. Kaidah penyebutan bilangan telah dijelaskan secara sistematis. Karena itu, saya merasa janggal ketika kesalahan seperti ini muncul dari seorang Rais Aam PBNU.

Baca juga: Dugaan Aliran Rp21 Miliar dan Drama Rokok Ilegal, Gus Lilur Minta Prabowo Bertindak Tegas

Selain itu, saya mencatat sedikitnya enam kekeliruan lain dalam pembacaan teks, yang menurut penilaian saya terdiri atas empat kesalahan harakat dan dua kesalahan lafal.

Misalnya, frasa badzlul wus'i dibaca bi badzlil was'i; kata wa mallakahum dibaca wa mulkuhum; bentuk jamak azimmat dibaca azmat; kata jaizan dibaca jaizun; bentuk aninha dibaca an anhi; kemudian lafal li hifzhil 'ibad berubah menjadi li fadh lil 'ibad; serta frasa al-umur al-sirriyyah saya dengar dibaca dengan lafal yang berbeda.

Seluruh catatan tersebut saya tuliskan berdasarkan apa yang saya dengarkan dari rekaman pidato dan saya cocokkan kembali dengan naskah yang terdapat dalam kitab Nasihatul Muluk. Sangat mungkin orang lain memiliki pembacaan atau penafsiran berbeda, dan saya menghormati hal tersebut.

Yang ingin saya tekankan bukanlah mencari-cari kesalahan seseorang, melainkan mengingatkan pentingnya menjaga standar keilmuan, terutama ketika berbicara atas nama organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Baca juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Rais Aam bukan hanya pemimpin struktural, tetapi juga simbol otoritas ilmiah. Karena itu, setiap ucapan, kutipan, maupun cara membaca teks Arab akan menjadi rujukan bagi jutaan warga Nahdlatul Ulama. Standar yang diterapkan kepada beliau tentu berbeda dengan standar yang diterapkan kepada masyarakat awam.

Saya menulis catatan ini bukan karena kebencian kepada pribadi siapa pun. Justru karena rasa hormat kepada marwah Nahdlatul Ulama, saya meyakini bahwa kritik ilmiah harus tetap memperoleh ruang. Tradisi NU sejak dahulu dibangun di atas budaya musyawarah, tabayun, dan saling mengoreksi dengan argumentasi, bukan dengan kultus individu.

Apabila terdapat bagian dari catatan ini yang keliru, saya terbuka untuk dikoreksi melalui dialog ilmiah yang berlandaskan dalil, naskah, dan kaidah bahasa Arab. Sebab, tujuan akhirnya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga kehormatan ilmu dan marwah Nahdlatul Ulama.

Salam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru