JAKARTA, HINews - Meski DPR telah mengesahkan revisi UU TNI, namun aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat terus berlanjut.
Seperti pada Kamis (27/3/2025), ratusan elemen mahasiswa dan masyarakat melakukan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, mereka menolak adanya revisi UU TNI.
Baca Juga: Revisi Undang undang TNI, Wajar Asal Tidak Kembalikan Dwi Fungsi TNI
Bahkan, di tengah aksi demonistrasi itu, seorang jurnalis Kompas.com mendapatkan intimidasi dari oknum aparat yang berpakaian sipil dan menggeledah paksa barang-barang pribadi milik jurnalis.
Menanggapi insiden tersebut, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegaskan bahwa
Penggeledahan paksa barang-barang pribadi milik jurnalis Kompas.com oleh aparat berpakaian sipil adalah perbuatan yang melanggar hukum.
Komisioner Komnas HAM Anis Hidayah mengatakan, penggeledahan yang dilakukan aparat seharusnya memiliki prosedur yang jelas, bukan asal main geledah, terlebih saat jurnalis sedang melakukan kerja-kerja jurnalistik.
"Penggeledahan yang dilakukan tanpa melalui prosedur yang jelas itu juga tidak bisa dilakukan karena melanggar hukum, apalagi data-data pribadi juga tidak bisa kemudian diperiksa begitu saja tanpa ada mekanisme yang jelas melalui proses hukum yang ada di Indonesia," kata Anis, seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (28/3/2025).
"Karena itu juga merupakan bentuk kesewenang-wenangan aparat," ujarnya lagi.
Atas kejadian itu, Komnas HAM mengecam dan menyesalkan sikap aparat yang brutal dan tidak menghormati kerja-kerja jurnalis.
Dia menyebut, tindakan tidak profesional aparat tersebut adalah gangguan terhadap hak asasi manusia (HAM), yang seharusnya dilindungi oleh negara.
"Kami mendorong dalam merespons aksi-aksi demonstrasi yang terjadi hari-hari ini karena penolakan UU TNI, aparat mesti menunjukkan sikap yang profesional, anti kekerasan, dan tidak melakukan intimidasi terhadap jurnalis dalam melakukan kerja-kerjanya dalam meliput aksi demonstrasi yang terjadi karena penolakan UU TNI," kata dia.
"Kami (juga) mendorong ke depan pemerintah lebih menjamin dan melindungi jurnalis," tambah Anis.
Sebelumnya, Rega Almutada (23), seorang jurnalis Kompas.com, mengalami intimidasi saat meliput demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada Kamis (27/3/2025).
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 18.35 WIB, ketika aparat kepolisian tengah menyisir dan membubarkan massa menggunakan mobil water cannon.
Rega mengaku ditarik secara tiba-tiba oleh dua orang berpakaian sipil yang diduga merupakan aparat.
Mereka kemudian memeriksa isi ponselnya tanpa alasan yang jelas. Baca juga: Teror Kepala Babi untuk Tempo: Ancaman Nyata Terhadap Pers di Indonesia Setelah ditarik, kedua orang tersebut meminta Rega untuk menunjukkan isi ponselnya.
Meskipun Rega telah menunjukkan kartu pers dari Kompas.com, mereka tetap memeriksa isi galeri dan grup WhatsApp di ponselnya.
"Saya punya dua ponsel, satu untuk kerja dan satu pribadi. Dua-duanya dicek. Bahkan grup WhatsApp kantor saya di-scroll, termasuk grup keluarga dan teman-teman," kata Rega.
Rega menambahkan bahwa aparat yang memeriksanya tidak mengenakan seragam dan tidak memperkenalkan diri sebagai polisi. Baca juga: Demo Tolak UU TNI yang Terus Berlanjut, tapi DPR Abai Awalnya, ia mengira mereka adalah peserta aksi atau wartawan lain.
"Saya baru sadar mereka aparat karena postur tubuhnya, dan mereka begitu saja menarik saya. Mereka tidak membawa senjata, tapi cara mereka mendekati saya cukup membuat saya terkejut," ujar dia.
Selain Rega, insiden serupa juga dialami oleh seorang jurnalis dari media asing.
Dua wartawan dari media Russia Today diminta untuk mematikan kamera mereka saat meliput.*"
Editor : Redaksi