Pakar Filsafat Politik Ini Berikan 4 Catatan Kritis Terhadap Debat Cawapres Kedua

Pakar filsafat politik Tonny Rosyid. (Ist)
Pakar filsafat politik Tonny Rosyid. (Ist)

JAKARTA, HINews - Sejumlah analis politik menilai bahwa debat calon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Ahad (21/1/2024) semalam dinilai sebagai panggung cawapres 01 Muhaimin Iskandar dan cawapres 03 Prof.Mahfud MD.

Pakar filsafat politik Tonny Rosyid mengungkapkan, meski pada debat sebelumnya cawapres 01 Muhaimin Iskandar dan cawapres 03 Mahfud MD terlihat kurang lepas dalam mengutarakan pendapatnya, namun debat semalam kedua aktivis NU itu dinilai banyak menguasai materi ketimbang cawapres 02 Gibran Rakabuming Raka.

Tonny mengatakan, publik  harus mengakui bahwa pada debat pertama Gibran lebih lepas dan berhasil mendominasi jalannya debat dibanding Prof.Mahfud dan Gus Imin.  "Wajar saja, karena Gus Imin mash punya beberapa menteri di kabinet Jokowi, sementara Pak Mahfud MD masih menjadi menteri aktif. Jadi keduanya lebih menjaga diri aga tak memiliki efek jelang akhir jabatannya," ujar Tonny sebagaimana disiarkan di chanel YouTube Rafly Harun, Senin (22/1/2024).

Tonny menilai debat pertama dijadikan kesempatan Gibran untuk menunjukan dirinya sebagai representasi anak muda yang bisa menguasai materi debat. Namun di debat kedua itu menjadi kesempatan Gus Imin dan Prof. Mahfud untuk memberikan perlawanan terhadap Gibran.

“Karena sebelumnya mereka masih mengkalkulasi. Tapi di debat semalam Gibran dinilai tidak menguasai materi dibanding Gus Imin dan Prof.Mahfud," ujar Tonny.

Tonny menilai bahwa di debat kedua cawapres semalam, Gus Imin jika dilihat dari kalkulasi presentasenya naik 180 derajat dibanding saat debat pertama.

Sementara itu, Prof Mahfud  juga menunjukkan kemampuannya dalam debat kedua cawapres tersebut. Artinya, baik Gus Imin maupun Prof. Mahfud dalam debat semalam lebih konfiden.

"Saya menilai baik Gus Imin maupun Prof Mahfud sudah cukup matang pengalaman dan memiliki jam terbang tinggi dalam berpolitik. Jadi di debat kedua itu sudah keluar siapa sebenarnya diri mereka. Kemudian di debat kedua ini keduanya dinilai tidak terbebani status mereka di kekuasaan," tegas Tonny.

Tonny menilai bahwa pada debat kedua cawapres, pernyataan Gibran dinilai cukup parah. Terutama soal etika. Cawapres 02 itu seharusnya memahami bahwa masyarakat atau pemilih di Indonesia tidak hanya melihat aspek materil.

"Sebab pemilih rasional kita jumlahnya hanya 15 persen. Tapi pemilih konversikologis jumlahnya cukup besar hingga 85 persen. Jadi masyarakat tidak suka dengan calon pemimpin yang sombong, angkuh, sok, dan songong.  Dan siapapun yang memiliki indikator itu pastinya tidak disukai oleh masyarakat," jelas Tonny.

Tonny memberikan 4 catatan kritis kepada cawapres Gibran pada debat kedua yang dinilai cukup parah. Yang pertama, Gibran masih percaya diri pada debat pertama.yang menjebak Gus Imin dan Prof. mahfud dengan menggunakan kata-kata istilah, ternyata di debat kedua itu masih diulangi.

Menurut Tonny, Gibran sepertinya ingin memberikan pesan kepada publik ketika Gus Imin dan Prof.Mahfud ditanya dengan menggunakan istilah, dan seolah Gibran ingin menunjukkan dirinya  bahwa lawan debatnya tak selevel.

"Seperti, Gibran sampai mengatakan, Profesor kan seorang guru besar, masa hal seperti ini tidak faham. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Gibran itu tidak matang di dunia akademiknya,” ujar Tonny.

Kemudian yang kedua, banyak narasi-narasi dari Gibran yang dinilai merendahkan Gus Imin dan Prof.Mahfud. Dan hal itu dikemukakannya beberapa kali diungkap dan diulang saat debat kedua cawapres tersebut dan selah-olah Gibran jauh lebih pintar.

“Sepertinya Gibran ingin memberikan kesan bawa ia lebih menguasai dari dua kandidat cawapres lain seolah lebih memahami dan lebih matang,” katanya

Kemudian yang ketiga gestur yang ditunjukkan Gibran dinilai “melecehkan”. Dan hal itu kata Tonny sikap Gibran tersebut sangat berbeda jauh dengan kesantunan Jokowi saat mengikuti debat.  Gestur yang dilakukan Gibran bagi penilaian masyarakat jawa itu lebih dari “nge'nye”.

Padahal, kata Tonny, yang dihadapi oleh Gibran itu Prof.Mahfud dan pernah menjadi ketua MK dan pernah masuk di sejumlah jajaran kabinet,  kemudian juga juga Gus Imin pernah menjadi menjadi Menteri dan seorang yang matang dalam pengalaman, pintar secara akademik dan berpengalaman pula dalam menjalankan tugas pemerintahan, namun diperlakukan sangat tidak etis oleh Gibran.

“Saya yakin masyarakat sangat menyayangkan sikap Gibran, justru publik akan berbalik bahwa ini ada anak muda yang tidak bisa menjaga kesantunan dan pergaulan etis pada orang tua. Sebab di Jawa itu bahkan mungkin di seluruh masyarakat Indonesia, bahwa gestur-gestur terhadap orang tua akan dilihat bagaimana anak muda tersebut sopan atau tidak terhadap yang lebih tua. Dan kita tidak bisa berkata apa-apa terhadap apa yang dilakukan oleh Gibran kepada Mahfud Md dan Gus Imin,” beber Tonny.

Atas sikap Gibran yang dipertontonkan kepada publik terkait dengan etikanya yang kurang patut terhadap Mahfud MD dan Gus Imin saat debat kedua cawapres semalam, Tonny menilai suara paslon nomor urut 02 Prabowo-Gibran akan tergerus.

Selanjutnya yang keempat, kata Tonny, beberapa kali Gibran menyebut Thomas Lembong  alias Tom Lembong. Padahal mantan Mendag itu bukan merupakan peserta debat.

“Katakanlah dulu Tom Lembong pernah menjadi kubu Jokowi dan sekarang berada di kubu Anies-Muhaimin. Jika itu diungkap-ungkap seolah itu menjadi dendam. Karena penyebutan nama Tom Lembong itu bukan hanya sekali. Gibran dinilai tak terima bahwa Tom Lembong berada di kubu AMIN. Selain itu Gibran seolah ada rasa ketakutan bahwa Tom lembong seolah tahu banyak. Justru saya melihanya apa yang dilakukan oleh Gibran itu merupakan Tindakan offside dalam debat semalam,” ucap Tonny. **

Editor : Redaksi

Opini   

Kondisi Eropa Yang Berubah Sekularistik

Oleh : Wibisono Di berbagai penjuru Eropa , ada fenomena menarik yang terjadi di mana gereja-gereja yang tidak lagi digunakan untuk ibadah diubah…