Jelang Pilpres 2024, Soliditas NU Dipertanyakan

Foto: Ilustrasi (Ist)
Foto: Ilustrasi (Ist)

JAKARTA, HINews - Kebijakan PBNU yang mencopot Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) KH Marzuki Mustamar mendapat sorotan tajam dari sejumlah tokoh nahdliyin non-struktural.

Sebab, selama organisasi islam terbesar di Indonesia itu dilahirkan, belum pernah melakukan pemecatan terhadap pengurus wilayah.

Maksud Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang kerap menyatakan bahwa NU tetap netral, itu pun akhirnya terkuak.

Ternyata di balik pernyataan agar pemgurus NU tetap netral, diduga ada agenda besar bahwa kelompok Nahdliyyin diduga tengah diarahkan pada paslon capres-cawapres tertentu.

Sebagaimana diungkapkan Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam yang mengaku telah mendapatkan informasi bahwa PBNU telah mengarakan pengurus PCNU dan PWNU Jatim agar mendukung paslon tertentu.

Hal tersebut terungkap saat pengurus PBNU menggelar pertemuan bersama pengurus PCNU dan PWNU Jatim di Surabaya pada Rabu (27/12) malam.

"Tokoh-tokoh teras PBNU ini mengarahkan struktur PCNU yang hadir untuk membantu ke paslon 2. Ada yang dengan bahasa yang soreh atau jelas, ada yang bahasa dinayah atau kiasan," ujar Gus Salam kepada wartawan, baru-baru ini.

Pengurus Ponpes Denanyar Jombang itu mengaku kecewa atas sikap PBNU tersebut. Sebab, selama ini para pengurus PBNU selalu menyebut NU netral dan tidak dibawa dalam kepentingan Pilpres 2024.

Diambang Perpecahan, Kritik Pedas Pada PBNU Bermunculan

Sebagaimana dilansir dari vivanews, terpantau ada delapan karangan bunga yang bertuliskan kritikan pedas kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dari berbagai pihak.

"Jangan biarkan NU di tangan badut," dari NU Garis Lurus. "Di NU itu mengabdi, bukan tempat cari uang," dari Wong NU Mbeling.

"Selamatkan NU dari orang-orang munafik," dari Kaukus Muda Nahdlatul Ulama (KMNU).

"Jangan jadikan NU tunggangan untuk meraup keuntungan," dari Nahdliyin Cerdas Bersatu.

"Yahya dan Ipul biang kehancuran PBNU," dari NU Ndeso.

"Turut prihatin atas matinya budaya tabayyun di NU akibat pemecatan Ketua PWNU Jatim #savePWNUjatim," dari Nahdliyin Bersatu Umat Maju.

"Turut prihatin dan berduka atas pemecatan KH Marzuki Mustamar sebagai Ketua PWNU Jatim akibat matinya budaya tabayyun di NU. #saveKHMarzukiMustamar," dari perkumpulan pergerakan warga NU.

Karangan bunga tersebut dikirimkan dan diletakkan para pengirim di sebelah utara Kantor PWNU Jatim. Tepatnya di pintu masuk.

Karangan bunga tersebut dikirim oleh pihak yang kecewa terhadap tindakan PBNU yang tiba-tiba memberhentikan KH Marzuki Mustamar.

Petugas pengirim bunga, Siswanto, mengaku tidak mengetahui siapa yang memesan karangan bunga tersebut. Dia hanya bertugas mengirimkan karangan bunga yang sudah terbuat ke alamat Kantor PWNU Jatim.

"Masalah kiriman ini kan sudah tertera di papannya. Dari siapa-siapanya saya tidak tahu. Terima order, kirim, gitu aja," kata Siswanto usai menata karangan bunga yang dikirimnya, Ahad (31/12/2023).

Dia mengatakan kiriman karangan bunga serupa sudah kali kedua dilakukannya di waktu yang berbeda.

Sebanyak empat buah karangan bunga pertama dikirimkannya pada Sabtu (30/12/2023) malam. Namun, karangan bunga itu sudah tidak ada lagi di lokasi.

Siswanto mengaku sementara ini masih belum ada orderan karangan bunga serupa. "Untuk sementara ini belum ada," pungkasnya.**

Editor : Redaksi

Opini   

Anies Bukan Budak Jokowi

Oleh: Yusuf Blegur Sejatinya, publik bukan saja menganggap anak-anak Jokowi yang terlibat dalam politik sebagai anak haram konstitusi. Lebih dari…