Kopkar Forindo Siap Perkuat SDM dan Perlindungan Pekerja Industri Logistik Nasional

Reporter : Redaksi
Launching Koperasi Karyawan Forwarder Indonesia (Kopkar Forindo). Foto: dok; HINews

JAKARTA, HINews– Di balik kelancaran arus barang yang menghubungkan pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, hingga pasar-pasar di seluruh Indonesia, terdapat ribuan pekerja yang menjadi penggerak utama rantai pasok nasional. Mereka adalah tenaga operasional, staf dokumentasi ekspor-impor, petugas kepabeanan, koordinator transportasi, pekerja gudang, hingga tenaga administrasi yang memastikan industri logistik tetap berjalan setiap hari.

Namun, di tengah peran strategis tersebut, para pekerja logistik kerap menghadapi berbagai ketidakpastian ketika perusahaan mengalami persoalan bisnis, tekanan ekonomi, sengketa hukum, maupun perubahan regulasi yang berdampak pada keberlangsungan usaha.

Berangkat dari kebutuhan akan wadah yang mampu memperkuat perlindungan dan kesejahteraan pekerja, sejumlah insan di sektor freight forwarding dan logistik membentuk Koperasi Karyawan Forwarder Indonesia (Kopkar Forindo).

Ketua Umum Kopkar Forindo, Muhajir, mengatakan koperasi ini hadir sebagai wadah ekonomi bersama yang bertujuan memperkuat perlindungan sosial, ekonomi, dan profesional pekerja logistik nasional.

Menurutnya, koperasi tidak dibentuk untuk berhadapan dengan perusahaan maupun organisasi pengusaha, melainkan untuk menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkelanjutan.

"Kami percaya perusahaan yang kuat membutuhkan pekerja yang sejahtera. Sebaliknya, pekerja yang sejahtera juga membutuhkan perusahaan yang sehat. Karena itu, Kopkar Forindo hadir sebagai jembatan keseimbangan yang memperkuat kedua belah pihak," ujar Muhajir.

Ia menjelaskan, industri freight forwarding Indonesia saat ini sedang menghadapi perubahan besar, mulai dari digitalisasi layanan logistik, meningkatnya persaingan global, transformasi rantai pasok, hingga penyesuaian regulasi melalui Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.

Perubahan tersebut menuntut seluruh pelaku industri untuk semakin adaptif. Di sisi lain, pekerja membutuhkan dukungan yang mampu membantu mereka menghadapi risiko sosial maupun ekonomi yang muncul akibat dinamika industri.

Kopkar Forindo dirancang sebagai koperasi profesi yang menghimpun pekerja dari berbagai perusahaan Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) atau freight forwarding yang dalam KBLI 2025 diklasifikasikan sebagai KBLI 52311. Keanggotaan juga terbuka bagi pekerja sektor pergudangan, distribusi, multimoda, ekspedisi, serta berbagai bidang lain yang menjadi bagian dari ekosistem logistik nasional.

Berbeda dengan koperasi konvensional yang umumnya berfokus pada layanan simpan pinjam, Kopkar Forindo mengusung konsep yang lebih komprehensif dengan mengedepankan program perlindungan, pemberdayaan, dan peningkatan kapasitas anggota.

Program yang disiapkan antara lain dana solidaritas anggota, bantuan hukum, bantuan darurat bagi pekerja terdampak persoalan perusahaan, program pendidikan bagi anak anggota, pelatihan profesi logistik, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan usaha produktif bagi keluarga pekerja.

Selain itu, koperasi juga merancang berbagai program pendukung kesejahteraan seperti kepemilikan rumah dan kendaraan, layanan kesehatan, dana sosial kematian, serta pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri logistik modern.

"Kami ingin membangun rumah besar bagi pekerja logistik Indonesia. Ketika perusahaan berkembang, pekerja ikut merasakan manfaatnya. Ketika perusahaan menghadapi tantangan, pekerja tidak berjalan sendiri. Di situlah koperasi berperan sebagai jaring pengaman sosial dan ekonomi," katanya.

Muhajir menambahkan, pembentukan Kopkar Forindo mendapat respons positif dari berbagai kalangan industri. Selama ini perusahaan telah memiliki wadah melalui Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), sementara pekerja belum memiliki organisasi ekonomi berskala nasional yang secara khusus berfokus pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Ke depan, Kopkar Forindo menargetkan terbentuknya jaringan koperasi pekerja freight forwarding yang terhubung secara digital di seluruh Indonesia. Melalui sistem tersebut, anggota dari berbagai daerah dapat mengakses layanan, program, dan manfaat koperasi secara setara tanpa terkendala jarak geografis.

Muhajir menegaskan bahwa kesejahteraan pekerja dan keberlangsungan perusahaan bukanlah dua kepentingan yang saling bertentangan. Keduanya merupakan fondasi utama yang harus tumbuh bersama untuk menjaga daya saing industri logistik nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

"Melalui Kopkar Forindo, kami ingin menghadirkan rasa aman, solidaritas, dan harapan yang lebih kuat bagi para pekerja yang selama ini menjadi tulang punggung rantai pasok Indonesia," pungkasnya.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru